Kamis pagi yang harusnya tenang berubah jadi lautan kuning-hijau di Ternate. Begitu wasit meniup peluit panjang dan Brasil memastikan kemenangan 3-0 atas Skotlandia, ribuan pendukung Selecao yang sejak subuh memadati Taman Film Benteng Oranje tidak langsung pulang. Mereka tumpah ke jalan.

Pertandingan itu adalah laga fase grup Piala Dunia 2026. Buat sebagian besar warga Ternate, kickoff-nya jatuh di waktu yang tidak ramah, sekitar pukul tujuh pagi Waktu Indonesia Timur. Tapi jam segitu justru jadi alasan kumpul: nobar sambil sarapan, lalu lanjut konvoi begitu laga usai.

Dari benteng tua ke jalanan kota

Pilihan tempatnya punya cerita sendiri. Benteng Oranje, bangunan peninggalan abad ke-17 yang jadi salah satu penanda sejarah Ternate, malam dan paginya disulap jadi tribun terbuka. Layar besar, sorak-sorai, dan bendera di mana-mana. Sebuah benteng yang dulu dibangun untuk perang, hari itu dipakai merayakan sepak bola.

Usai peluit panjang, iring-iringan motor dan mobil memenuhi ruas-ruas jalan utama kota. Klakson bersahutan, jersey kuning di mana-mana, dan yang paling mencuri perhatian: bendera Brasil berukuran raksasa yang dibentangkan beramai-ramai sambil melintasi jalanan. Warna kuning, hijau, dan biru mendominasi sepanjang pawai, lengkap dengan syal, spanduk, sampai cat wajah ala tim Samba.

Ternate yang ikut masuk berita nasional

Yang menarik, euforia ini tidak berhenti di Ternate. Kantor-kantor berita nasional, mulai dari detikcom, ANTARA, hingga Tempo, ikut menurunkan liputan foto khusus soal aksi suporter di kota ini. Artinya, selebrasi warga di sebuah kota di timur Indonesia, ribuan kilometer dari Rio de Janeiro, cukup semarak untuk jadi sorotan se-Indonesia.

Demam ini juga bukan baru muncul Kamis kemarin. Sepanjang fase grup, basis pendukung Brasil di Ternate konsisten berkumpul: dari laga pembuka yang berakhir imbang 1-1 lawan Maroko, kemenangan 3-0 atas Haiti, sampai puncaknya menumbangkan Skotlandia. Dengan hasil ini, Brasil melaju ke babak 16 besar, dan besar kemungkinan jalanan Ternate bakal kembali ramai pada laga berikutnya.

Komentar Redaksi

Gampang menganggap nobar dan konvoi cuma hura-hura. Tapi ada yang lebih dalam dari sekadar bendera dan klakson. Di kota yang sering merasa jauh dari pusat keramaian, momen seperti ini jadi ruang publik yang langka: orang dari berbagai kampung, usia, dan latar belakang berkumpul di satu benteng tua, menyemangati tim yang bahkan tidak berbahasa sama dengan mereka.

Sepak bola memang begitu kerjanya. Ia menyatukan tanpa banyak tanya. Catatan kecil dari kami cuma satu, yang biasa: rayakan sepuasnya, tapi konvoi tetap jaga keselamatan, hormati pengguna jalan lain, dan jangan ada yang pulang dengan cerita duka. Ternate sudah menang soal semangat. Sayang kalau ternoda hal sepele di jalan.